Pilih Laman

Teori Warna (Color Theory)

Color Theory

Color theory adalah ilmu dan seni dalam menggunakan warna.

Color theory menjelaskan bagaimana manusia melihat dan merespons terhadap warna atau kombinasi dari warna-warna.

Oleh sebab itu, color theory dapat dimanfaatkan oleh desainer sebagai pedoman untuk menyampaikan pesan kepada audiens melalui warna.

Pada umumnya setiap warna memiliki makna atau menggambarkan nuansa yang berbeda dengan warna lain.

Dimana, hanya dengan mengubah sedikit hue (warna) atau saturation suatu objek, mungkin dapat mengubah makna atau nuansa dari objek tersebut.

Hal ini disebabkan karena warna merupakan salah satu persepsi yang digunakan setiap orang untuk mengenali atau menafsirkan sesuatu hal.

Misalnya, saat melihat langit persepsi kita adalah warna biru.

Tetapi, perlu diingat juga, persepsi setiap orang terhadap warna mungkin saja berbeda karena terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya.

Misalnya seperti perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi makna atau persepsi dari warna setiap orang.

Contoh: Warna kuning yang dianggap sebagai warna yang berkaitan dengan kebahagiaan di Amerika.

Namun bagi negara di Asia warna kuning dianggap sebagai warna yang berkaitan dengan kematian dan duka.

Terdapat juga faktor lain yang dapat mempengaruhi persepsi setiap orang terhadap warna, seperti jenis kelamin, usia, dan yang lain sebagainya.

Maka dari itu, penting bagi setiap desainer untuk dapat mengerti tentang color theory ini.

Dari Mana Warna Berasal ?

Sebelum masuk lebih jauh dalam color theory, hal pertama yang perlu kalian ketahui adalah dari mana asal suatu warna?

Berdasarkan percobaan dari Sir Isaac Newton disimpulkan bahwa warna dihasilkan dari cahaya.

Dimana cahaya memiliki jika dipecah akan membentuk suatu spektrum warna (Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, dan Ungu).

Jadi, benda-benda yang ada disekitar kita sebenarnya tidak memiliki warna sama sekali.

Kita dapat melihat warna pada suatu benda disebabkan karena pantulan spektrum warna tertentu pada suatu benda yang ditangkap oleh mata.

Color Model

Color model merupakan suatu teori yang digunakan untuk mengdefinisikan warna dalam bentuk numerik.

Dimana suatu warna umumnya direpresentasikan dengan menggunakan beberapa warna primer untuk menghasilkan rentang warna lainnya.

Model ini membedakan atau dapat dibagi berdasarkan media dimana warna akan muncul (apakah akan muncul di layar atau kertas).

Terdapat 2 jenis color model yang paling umum dan penting untuk diketahui, yaitu Additive Color Model dan Subtractive Color Model.

1. Additive Color Model

Additive color model adalah color model yang menggunakan cahaya untuk menampilkan warna.

Maksudnya, warna yang dihasilkan pada model ini berasal dari warna transmisi cahaya itu sendiri.

Contohnya seperti layar pada perangkat elektronik televisi, smartphone, monitor, dll, umumnya menggunakan additive color model.

Model ini dinamakan additive karena bekerja dengan cara mengkombinasikan intensitas cahaya dari 3 warna utama (Red, Green, dan Blue) untuk menghasilkan warna-warna lain.

Semakin besar intensitas dari setiap warna utama yang ditambahkan, maka semakin cerah warna yang akan dihasilkan.

Dimana ketika anda mengkombinasikan ketiga warna utama utama sekaligus pada intensitas maksimum, maka warna yang akan dihasilkan adalah warna putih.

Additive Color Model

2. Subtractive Color Model

Subtractive color model adalah color model yang menggunakan pigmen atau tinta dalam menampilkan warna.

Warna yang dihasilkan dari model ini adalah hasil dari pantulan cahaya terhadap suatu objek.

Dinamakan subtractive karena pada model ini warna dihasilkan dengan mengurangi pantulan cahaya spektrum warna tertentu.

Dimana hal ini dilakukan dengan cara menambah pigmen warna pada permukaan suatu objek.

Color model ini umumnya digunakan dalam media cetak seperti printing, melukis, dll yang berkaitan dengan menambahkan pigmen warna ke suatu objek.

Warna utama pada Subtractive Color Model meliputi Cyan, Magenta, dan Yellow.

Dimana ketika kita mencampurkan ketiga warna ini pada intensitas maksimal, warna yang terbentuk seharusnya adalah warna hitam.

Tetapi realitanya warna yang dihasilkan menjadi coklat gelap.

Sehingga agar dapat menghasilkan warna hitam gelap, ditambahkan lagi pigmen hitam pada color model ini.

Sehingga terdapat 4 warna utama pada color model ini, meliputi: Cyan, Magenta, Yellow, dan Black (CYMK).

Jadi, semakin banyak intensitas setiap pigmen warna yang ditambahkan, maka akan semakin gelap atau hitam warna yang dihasilkan.

Subtractive Color Model

Color Model mana yang harus digunakan ?

Sangat penting bagi anda untuk menentukan color model mana yang harus digunakan sebelum memulai melakukan desain.

Hal utama yang harus dipertimbangkan adalah pada media mana hasil dari desain anda akan digunakan.

Jika hasil design anda akan digunakan untuk produk fisik atau hasil print seperti untuk packaging, brosur, dll. Maka color model yang harus digunakan adalah CMYK.

Hanya saja, jika hasil design anda hanya digunakan untuk social media, aplikasi, website, atau media digital lainnya. Maka anda dapat menggunakan color model RGB.

Hal ini dapat sangat berpengaruh karena pada Additive Color Model, warna yang dihasilkan tampak lebih cerah dan memiliki spektrum warna yang lebih bervariasi.

Sedangkan pada subtractive color model, karena warna dihasilkan dari hasil pantulan cahaya, menyebabkan warna tampak lebih gelap atau halus.

Dan juga karena karena keterbatasan dari pigmen warna dari tinta, color range atau kombinasi warna pada subtractive color model yang dihasilkan juga lebih terbatas.

Hal inilah yang biasanya dapat menyebabkan ketidak-akuratan warna yang dihasilkan jika anda menggunakan Color Model yang tidak tepat.

Color Wheel

Kita telah mengetahui bahwa umumnya warna memiliki 3 warna utama, dan warna lainnya dihasilkan dari kombinasi ketiga warna ini.

Dimana untuk menjelaskan lebih lanjut tentang kombinasi warna ini digunakanlah color wheel.

Color wheel merupakan sebuah grafik yang berfungsi untuk menampilkan atau merepresentasikan hubungan antara warna-warna.

Color wheel pertama kali ditemukan pada tahun 1666 oleh Isaac Newton, dimana ia memetakan spektrum-spektrum warna dalam bentuk lingkaran.

Color wheel biasanya digunakan sebagai basis atau dasar bagi para desainer untuk mengkombinasikan warna agar tercipta color harmonies.

(Color harmonies adalah kombinasi yang selaras antara warna satu dengan warna lainnya)

Dalam color wheels terdiri atas 3 warna primer, 3 warna sekunder, dan 6 warna tersier.

Warna primer adalah warna dasar yang bukan merupakan campuran dari warna-warna lain. Meliputi: Merah, Kuning, dan Biru (Red, Yellow, dan Blue).

Warna sekunder adalah warna yang tercipta dari hasil percampuran warna-warna primer dengan proporsi 1 banding 1.

Jadi, warna sekunder juga terdiri atas 3 warna meliputi Jingga (campuran Merah dan Kuning), Hijau (campuran Biru dan Kuning), dan Ungu (campuran Merah dan Biru).

Sedangkan warna tersier merupakan warna yang tercipta dari hasil campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder untuk menghasilkan warna baru.

Contohnya seperti warna Chartreuse (Hijau Muda) yang merupakan campuran dari warna primer Kuning dan warna sekunder Hijau.

Dengan begitu, maka akan tercipta 6 kombinasi warna baru untuk warna tersier ini.

Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada gambar dibawah:

Color Wheel

Color Temperature

Jika dilihat lebih dalam lagi pada keseluruhan warna yang tercipta, kita juga dapat membagi Color Wheel menjadi 2 bagian, yaitu: Warm Color dan Cool Color (Biasa dikenal sebagai color temperature).

Warm color merupakan variasi warna yang dihasilkan dari warna Merah, Jingga, and Kuning.

Disebut sebagai warm color karena warna-warna ini merupakan warna dari api, sunset, sunrise dan umumnya terkait dengan energi, kecerahan, dan tindakan.

Sedangkan cool color merupakan variasi warna yang dihaslkan dari warna Biru, Hijau, dan Ungu.

Disebut sebagai cool color karena warna-warna ini biasanya melambangkan malam, air, alam dan berkaitan dengan sesuatu yang menenangkan.

Color Temperature

Neutral Color

Selain warna-warna yang telah disebutkan diatas, terdapat juga kelompok warna lain yang digolongkan sebagai neutral color.

Dinamakan neutral color karena warna-warna ini pada dasarnya tidak memiliki warna dan tidak muncul pada color wheel.

Neutral color juga dikenal atau disebut sebagai complementary color karena warna ini berfungsi untuk melengkapi warna-warna yang terdapat pada color wheels.

Dimana, neutral color dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu pure neutral dan near neutral.

Pure neutral adalah warna yang sama sekali tidak memiliki warna dasar (baik warna primer, sekunder, atau tersier).

Warna yang termasuk dalam pure neutral adalah: hitam, putih, dan campuran dari kedua warna tersebut yaitu abu-abu.

Berbeda dengan pure neutral, near neutral merupakan campuran dari warna pure neutral dengan warna dasar.

Near neutral umumnya dianggap sebagai warna yang memiliki saturasi rendah (tampak tanpa warna).

Percampuran antara warna dasar dengan pure neutral inilah yang menyebabkan warna dasarnya menjadi tampak lebih tidak bewarna.

Warna dasar yang dihasilkan akan menjadi lebih terang (jika dicampur putih) dan menjadi lebih gelap (jika dicampur warna hitam).

Hue, Shade, Tint, dan Tone

Berapakah jumlah warna yang anda ketahui?

Apakah warna-warna yang ada di dunia ini hanya sebatas pada warna yang terdapat pada color wheel?

Tentunya tidak demikian, dimana ketika anda melihat warna-warna yang terdapat pada pensil warna, crayon atau cat air anda, jumlahnya tentunya lebih dari warna yang terdapat pada color wheel.

Bisa dikatakan jumlah warna tidak terbatas, sebab kita terus dapat menghasilkan warna baru dengan mengubah intensitas dari setiap warna yang akan dicampurkan.

Karena terdapat begitu banyak jumlah warna, oleh sebab itu dikenal juga suatu istilah yang dinamakan hue, shade, tint, dan tone.

Hue, Shade, Tint, Tone

Hue

Hue adalah warna.

Hue merupakan istilah yang paling dasar yang digunakan dalam mendefinisikan atau mengdeskripsikan warna.

Pada dasarnya hue terdiri atas warna-warna yang terdapat pada color wheels meliputi warna primer, sekunder dan tersier.

Hue biasanya digunakan untuk mengacu pada warna utama apa yang mendasari dari campuran suatu warna yang tercipta.

Contohnya warna teal, navy, dan turqouise merupakan hue dari biru.

Shade, Tints, and Tone

Telah disinggung sebelumnya dimana percampuran antara warna dasar dengan pure neutral dapat membuat warna dasar tersebut menjadi lebih gelap/lebih terang.

Percampuran antara warna dasar (hue) dengan pure neutral inilah sehingga dikenal istilah shade, tint, dan tone.

Shade adalah hue yang dicampurkan dengan warna hitam.

Shade akan membuat warna (hue) menjadi lebih gelap dengan menambahkan warna hitam.

Tint adalah hue yang dicampurkan dengan warna putih.

Tint akan membuat warna (hue) menjadi lebih terang dengan menambahkan warna putih.

Contohnya seperti warna-warna pastel.

Tint biasanya digunakan untuk membuat desain yang lebih feminin atau ringan.

Tone adalah hue yang dicampurkan dengan warna abu.

Menambahkan tone akan membuat warna menjadi lebih pudar atau kesan yang lebih lembut.

Color Schemes

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa terdapat sangat banyak jumlah warna yang dapat dihasilkan.

Dari begitu banyak warna yang dapat dipilih, mungkin anda bingung kombinasi warna apa yang harus anda pakai.

Dimana, jika anda memutuskan kombinasi warna satu per satu secara manual dapat sangat melelahkan dan menghabiskan banyak waktu.

Oleh sebab itu anda dapat menggunakan preset warna atau yang biasa disebut sebagai color schemes.

Color schemes dapat didefinisikan sebagai aturan atau preset dasar dalam pengkombinasian warna.

Dimana anda dapat menggunakan color schemes ini untuk memudahkan anda dalam mengkombinasikan warna.

Terdapat setidaknya 6 jenis color schemes yang dapat digunakan terutama bagi pemula untuk memudahkan dalam memilih dan mengkombinasikan warna. Meliputi:

    1. Monochromatic
    2. Analogous
    3. Complementary
    4. Split Complementary
    5. Triadic
    6. Tetradic (Doble Complementary)

1. Monochromatic

Monochromatic

Monochromatic adalah color scheme yang hanya memiliki 1 hue.

Warna lain diciptakan dengan mengkombinasikan shade, tint, dan tone.

Monochromatic merupakan color scheme yang paling simpel untuk digunkan karena hanya menggunakan 1 hue dan perasaan / tampilan yang dihasilkan dari color scheme ini juga lebih konsisten.

Warna yang dihasilkan akan terasa lebih halus, elegan, dan nyaman untuk dipandang.

Hanya saja, terkadang color scheme ini dapat terasa membosankan atau terasa tidak menarik jika penggunaannya tidak tepat.

Jadi, ada baiknya untuk juga menambahkan warna neutral pada desain anda jika menggunakan color scheme ini.

2. Analogous

Analogous

Analogous adalah color scheme yang mengkombinasikan 3 warna yang saling bersebelahan pada color wheel.

Kekurangan pada color scheme ini mungkin adalah tidak begitu menimbulkan efek kontras pada setiap warna, karena warna yang masih saling bersebelahan.

Tetapi anda dapat mengkombinasikan 3 warna ini dengan shade, tint, dan tone untuk dapat membuat kontras pada color scheme ini.

Sehingga anda dapat menentukan warna apa yang ingin lebih anda tonjolkan sesuai dengan tujuan anda.

3. Complementary

Complementary

Complementary adalah color scheme yang dibuat dengan mengkombinasikan 2 warna dari sisi yang saling berlawanan.

Contohnya seperti warna merah dengan warna hijau.

Color scheme ini memiliki tingkat kontras yang paling tinggi dibandingkan color scheme lain.

Dimana ketika kita mengkombinasikan warna dari color schemes ini, warna yang dihasilkan akan tampak sangat ramai atau bertabrakan.

Oleh sebab itu disarankan menggunakan salah satu warna dari complementary color menjadi warna aksen pada desain anda.

Atau anda juga dapat memberikan shade, tint, dan tone pada salah satu warna agar tidak terlalu menonjol.

4. Split Complementary

Split Complementary

Split complementary adalah perkembangan dari complementary color schemes.

Dimana pada color schemes ini, anda mengkombinasikan 1 warna dominan dengan 2 warna yang bersebelahan langsung dengan warna complementary nya.

Contohnya, warna merah dengan Biru-Hijau dan Chartreuse (Kuning-Hijau).

Sama halnya dengan complementary color schemes, color scheme ini juga menciptakan kontras yang tinggi.

Hanya saja, warna yang digunakan dapat menjadi lebih bervariasi dibanding complementary color scheme.

5. Triadic

Triadic

Triadic merupakan color scheme yang terdiri atas 3 warna yang dipilih secara merata dari color wheel (sehingga akan membuat segitiga sama sisi).

Color scheme ini juga menghasilkan warna yang kontras yang tinggi, tetapi tidak setinggi complementary.

Dimana color scheme ini dapat mencitpakan kontras dan harmoni secara bersamaan.

Setiap warna yang dihasilkan akan tampak menonjol, sehingga keseluruhan desain anda juga akan menonjol.

6. Tetradic

Tetradic

Tetradic merupakan color scheme yang mengkombinasikan 4 warna secara sekaligus dari color wheel.

Jika pada triadic pola yang terbentuk adalah segitiga sama sisi, pola yang terbentuk pada tetradic adalah segi empat (persegi dan persegi panjang).

Tetradic merupakan color scheme yang paling sulit untuk digunakan secara efektif.

Salah satu cara agar tetradic color scheme dapat bekerja baik adalah dengan membuat satu warna menjadi dominan dan sisanya menjadi warna aksen.

Sebab, semakin banyak warna yang digunakan, akan semakin sulit juga untuk meyeimbangkan setiap warna dalam menciptakan color harmony.

Hendry Anggriawan

Hendry Anggriawan

Blogger Magang

Baca Juga

Tak Ditemukan Hasil

Laman yang Anda rikues tak dapat ditemukan. Cobalah mengganti pencarian Anda, atau gunakan navigasi di atas untuk mencari postingan.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *